AKU sudah tak berharap hembusan nafas ini untuk apa, siapa dan bagaimana nantinya. Yang aku tau hari ini aku begitu jengah dengan semua bayang tentangmu, yang berangsur melupakanku. Ya, jalan itu mulai usang, semenjak kepergianmu, dan aku tetap berdiri ditempat itu, tempat dimana kau pernah mendekap semua angan.
Aku masih mampu dengan segala keterpurukanku, meskipun segala ke-jengah-an membebani pundak yang dulu pernah kau kelayuti. Aku titip hijau ya… hijau yang pernah menyatukan kita dan menjadi saksi ketika berdiaspora dengan alam.
Hijau itu… ya, dialah yang kini menjagamu. Menemanimu dalam segala gundahmu. Terus terang aku cemburu padanya, dia begitu bebas menyentuhmu, menghangatkan tidurmu, menjdi saksi setiap mimpi indahmu.
Source:
Aku begitu cemburu padanya… meski aku yang mengikhlaskan dia menjadi satu-satunya cinta untukmu. ”Jaga dia ya! Seperti kau menjagaku dulu.” Aku akan terus berusaha ’mencintai’ segala kecemburuanku, sampai aku benar-benar sadar jika hanya dia yang pantas menemanimu.
Hijau, aku titip [dia] ya!
Aku tak pantas cemburu padamu, karna aku begitu mencintai kalian. Kau yang ku bawa dari ’negeri singa’ sengaja untuknya. Peluklah dia, ketika dia merindu-ku…
Hujau, aku titip [dia] ya!
Aku tak pantas cemburu padamu. Ya, karena [Kau] hanya secarik kain lusuh dari ‘negeri singa’. Aku percaya padamu hijau. Kau mampu meng-ejawantah-kan cintaku. (*)
RSS Feed
Twitter
Facebook
0 comments:
Post a Comment